JAKARTA – Memasuki 2026, otomatisasi berbasis algoritma dan AI telah mengubah lanskap produksi konten secara fundamental. Proses menjadi lebih cepat dan efisien, namun muncul paradoks: semakin canggih teknologinya, semakin rapuh tingkat kepercayaan konsumen terhadap brand. Menanggapi fenomena ini, pakar strategi digital Rizki Dewantoro Raharjo, yang akrab disapa Eki, meluncurkan sebuah manifesto industri berjudul "The Authenticity Gap - The Human First Marketer".
Buku ini hadir sebagai kompas di tengah kebisingan digital, menyoroti apa yang disebut Eki sebagai "Authenticity Gap" sebuah jurang pemisah yang tercipta saat merek terlalu fokus pada metrik kesombongan (vanity metrics) dan melupakan esensi dari koneksi antar-manusia.
Kematian Strategi Berbasis Angka Semu
Selama lebih dari 10 tahun berkarier di dunia marketing dan branding, Eki telah menyaksikan pergeseran pola perilaku konsumen dari berbagai industri dan skala bisnis. Menurutnya, obsesi berlebih pada klik, impresi, dan growth hacking sering kali menjadi bumerang yang membuat sebuah merek terasa "dingin" dan mekanis.
"Kepercayaan telah menjadi mata uang yang paling langka," tulis Eki dalam bukunya. Ia menekankan bahwa sukses yang berkelanjutan bukan datang dari seberapa canggih algoritma yang digunakan, melainkan seberapa jujur narasi yang dibangun oleh sebuah merek untuk menyentuh sisi kemanusiaan audiensnya.
Dalam karyanya tersebut, Eki memaparkan kerangka kerja Human-First Marketer, sebuah pendekatan yang mengajak para praktisi untuk:
Menggali kembali nilai inti merek yang autentik.
Menguasai seni penceritaan (storytelling) yang jujur dan transparan.
Memposisikan AI bukan sebagai pengganti kreativitas manusia, melainkan sebagai alat untuk memperkuat pesan yang sudah memiliki jiwa.
Membangun Komunitas di Balik Layar @marketingwitheki
Kredibilitas Eki dalam menyusun strategi ini tidak datang dari teori semata. Ia secara aktif membagikan wawasan, tren, hingga kritik tajam mengenai dunia bisnis dan marketing di seluruh platform media sosial melalui akun @marketingwitheki. Interaksi harian pengikutnya menjadi bukti nyata bahwa audiens hari ini lebih menghargai edukasi yang personal dan tulus dibandingkan iklan konvensional.
Eki berargumen bahwa media sosial seharusnya tidak lagi dianggap sebagai saluran penyiaran satu arah (broadcasting), melainkan ruang untuk membangun komunitas sejati. Hal ini ia terapkan secara konsisten, baik dalam konten pribadinya maupun dalam strategi yang ia susun untuk klien di bawah bendera Longetiv Digital Hub.
Implementasi Strategis Bersama Longetiv Digital Hub
Sebagai Co-Founder dari Longetiv Digital Hub, Eki membawa filosofi human-first ini ke tingkat praktis. Agensinya dikenal mampu membantu berbagai merek, mulai dari perintis usaha (startup) hingga perusahaan berskala besar, untuk menjembatani celah autentisitas mereka.
Bagi Eki, sebuah digital marketing agency yang kompeten tidak hanya sekadar memberikan laporan angka, tetapi juga harus mampu membangun aset jangka panjang bagi klien: yaitu kepercayaan. Melalui layanan jasa digital marketing yang ditawarkan Longetiv, Eki memastikan bahwa setiap kampanye didorong oleh empati dan etika, dengan fokus utama pada sentimen merek dan nilai seumur hidup pelanggan (customer lifetime value).
Menatap Masa Depan Pemasaran di Indonesia
Buku "The Authenticity Gap" diharapkan menjadi titik balik bagi generasi pemasar di Indonesia. Eki mengajak para profesional untuk berhenti sejenak dari perlombaan algoritma dan mulai kembali memanusiakan merek mereka.
“Tinggalkan obsesi pada klik. Saatnya membangun sesuatu yang bermakna,” tegasnya. Dengan pengalaman panjang sebagai mentor di berbagai institusi pendidikan dan praktisi senior di industri, karya terbaru Rizki Dewantoro Raharjo ini berpotensi menjadi referensi utama bagi siapa pun yang ingin tetap relevan di era teknologi yang bergerak cepat.
